Senin, 11 Agustus 2014

SURAT

Yogyakarta, 12 August 2014

Aku memang biasa saja
Aku teman yang biasa saja, yang setiap hari kau sapa,
Aku di sini selalu jadi teman, aku yakin itu, tapi apakah aku ini?
Walau sekedar menemanimu ke kantin atau ke kamar mandi, dengan senang hati aku lakukan, padahal bisa saja kau pergi sendiri…
Walau sekedar mendengar cerita mu baik penting atau tidak aku selalu memperhatikan setiap mimik dan alur ceritamu…
Pun mendengar candamu yang lucu ataupun tidak, aku akan tetap berusaha membuat suasana menjadi riang karena humormu …
Dan ingatkah kau ketika kau sedang patah hati?
Kau datang padaku dan bercerita, air mata mu tumpah tanpa malu…
Saat itu aku merasakan dua hal
Pertama aku bersyukur kau telah percaya padaku, setidaknya kau membuatku merasa lebih dari teman yang biasa saja
Dan
Kedua aku ingin berusaha sekuat tenaga untuk membuatmu  lebih baik
Mungkin aku pemberi nasihat yang buruk, maafkan aku
Aku akui kadang aku “sedikit” tidak memperhatikanmu ketika aku terpendam dalam tumpukan rutinitas atau karena aku harus membagi perhatianku ke selain kamu, aku minta maaf soal itu…
Tapi apakah kau tau? Aku selalu ingin mendengar kabar darimu, aku selalu mengamati apa yang terjadi padamu, dan aku selalu mengingatmu, aku tidak lupa teman…

Mungkin aku ini bukan seorang yg hebat,
Atau mungkin aku ini bukan orang ideal untuk konseling,
Bukan seorang berjilbab besar yang dapat mendamaikan dengan nasihat – nasihat kesukaanmu,
Aku ini biasa saja, aku sudah bilang…
Aku hanya ingin membuatmu merasa lebih baik, itu saja…
Dengan pengetahuan yang aku punya, dengan pelajaran hidup yang aku dapati, dan dengan ilmu agama yg aku punya…
Aku berusaha membuatmu lebih baik dan tersenyum lagi
Namun terkadang, aku ini terlalu biasa…
Atau bisa jadi aku ini sudah biasa saja karena aku selalu ada di sekitarmu ,
Sedangkan yang jauh darimu selalu kau banggakan…
Yang jauh darimu selalu kau rindukan…
Kadang aku ingin bertanya padamu
Apakah suatu saat kau akan merindukanku teman?
Ketika aku jauh…
Ya..
Jauh
Jika caraku untuk selalu membuatmu lebih baik ternyata kurang baik, maafkan aku
Aku kan sudah bilang… aku seorang biasa…
Tapi aku adalah orang yang sudah mengenal baik dirimu (menurutku)
Aku adalah orang yang kau berikan sebagian kisah hidupmu
Dan aku adalah orang yang dekat yang tersenyum bersamamu, yang menghapus air matamu, dan yang memelukmu ketika kau butuh itu…
Aku memang terlalu biasa untuk dirimu yang luar biasa
Tapi… terimakasih untuk semua hal luar biasa yg kita ciptakan bersama
Terimakasih telah melakukan hal yang dalam surat ini aku gambaran, maafkan aku sering kurang memperhatikanmu sahabatku yang dekat J

-Putri Nur Fitasari
 (Putrinurfita.blogspot.com)



Transisi

Yogyakarta, 11th August 2014
Masa transisi..
Bukan hanya terjadi ketika umur belasan tahun saja, masa – masa dari anak ingusan ke usia remaja (atau yang selanjutnya saya sebut transisi tipe 1). Saya, Putri umur 22 tahun, dan saya mengalami masa – masa itu lagi. Hanya saja ini berbeda. Ya..sangat berbeda.

Dulu sewaktu SMP atau SMP ke SMA (waktu di mana transisi tipe 1 mulai berinkubasi dalam seorang remaja) mungkin kita bisa saja diijinkan untuk “slengekan”[1], ceroboh atau tidak berpikir jangka pajang terhadap apa yang kita putuskan sewaktu kita megalami transisi tipe 1. Misalnya saja ketika kita memutuskan jatuh cinta kepada seorang ketua OSIS, atau kita memutuskan untuk mengecat rambut kita dengan cat rambut murahan, dan bahkan jika kita yang muslimah memutuskan untuk berhiijab J, eh satu lagi ini yang paling sering buat para remaja laki – laki à merokok. Ya, mungkin dalam urusan berhijab memang tidak ada unsur “slengekan-“nya tapi kalau saya pribadi, dulu memutuskan berhijab karena saya ingin seperti mba –mba keren SMA 1 Yogya yang anggun memakai balutan pakaian perintah Allah tersebut. Saya tidak mendalami benar – benar apa itu hijab (dan sampai sekarang saya masih “belajar” untuk mendalami).

Mungkin ketika saya utarakan gambaran mengenai transisi tipe 1 tadi banyak yang berkata pada layar laptop masing – masing
 “ah ngga aku dulu remajanya ngga nakal”, atau…
“ah siapa bilang dulu pengen ngecat rambut”, atau..
“aku tau kok kenapa aku dulu pake hijab”
Tapi bukan itu maksud saya, transisi tipe 1 lebih bersifat spontan dan tanpa pertimbangan pemikiran yang mendalam (hayo ngaku!).

Nah sekarang, transisi tipe 2, mungkin saya ingin bercerita saja ya.
Saya adalah ibarat seorang penyu yang baru saja keluar dari telur saya yang hangat dan nyaman. Saya adalah penyu kecil yang dihadapkan oleh laut yang membentang luas. Beruntung, saya tidak buta arah karena penyu – penyu kecil lain menuju ke arah yang sama. Laut. Ya..Lautan luas yang saya sebutkkan tadi. Induk –induk kami yang menuntun kami ke lautan itu. Penyu kecil ini sangat semangat untuk segera berenang. Suatu bagian tubuh kami yang menyerupai kaki sangat menggeliat di pasir pantai yang tersusun atas pecahan – pecahan karang dan cangkang hewan –hewan pesisir. Saking semangatnya kami sang anak penyu, kami tidak sadar sudah berada di pinggir pantai. Ketika saya menengok ke belakang saya melihatnya, induk dan sarang saya yang nyaman, yang sebentar lagi akan saya tinggalkan. Induk saya menangis haru, ya walaupun saya tahu itu adalah tangisan kemenangan dan sang induk seolah berkata
“wahai penyu kecil berenanglah sejauh – jauhnya, tinggallah di tempat yang nyaman dan temukanlah si jantan, jangan kau ingat lagi pesisir ini, karena kau harus mendapatkan tempat yang lebih baik”
Aku tersenyum padanya dan berkata dalam hati
“Aku akan kembali ke pesisir ini, bukan untuk tinggal di sini, tapi untuk membawamu ke tempat yang aku temukan, dan aku pastikan itu lebih baik dari ini, akan ada banyak makanan dan  sarang yang lebih nyaman.”
“Aku tak mengajakmu bukan karena kamu merepotkan, tapi aku tak ingin ombak besar atau predator di sana melukaimu, aku ingin kau ikut denganku di kala aku sudah menemukan tempat itu”
Aku si anak penyu menguatkan langkah demi langkah sembari mematri janjiku pada indukku . Tiba-tiba ada cipratan air yang mengenai muka dan membasahi cangkang kecilku. Mereka menyadarkanku, ya…penyu – penyu kecil lainnya mereka berenang ke segala arah dan menyebar. Aku ingin berteriak “Hei..bukankah seharusnya arah kita sama?” Tapi sebelum aku berteriak aku sadar, aku sendirian. Kini aku harus bisa menjadi pelindung, ya…paling tidak pelindung bagi diriku sendiri, aku tidak bisa lagi mengandalkan sangkar dan indukku lagi.
Aku sendirian…

Sepenggal kisaah penyu kecil tadi kurang lebih sudah mendeskripsikan apa yang saya rasakan sekarang. Transisi tipe 2 adalah salah satu bagian hidup  yang menurut saya dramatis. Bagaimana tidak, meninggalkan keluarga, teman, selimut kesayangan (mungkin), uang saku, atau lebih dari itu…kita harus meninggalkan masa “main –main” kita meskipun di luar sana saya tahu banyak orang yang masih tidak mau meninggalkan masa “main-mainnya” dengan alasan kebebasan.
Well sebenarnya tidak banyak yang berubah di transisi kedua ini. Mungkin kita harus lebih  akrab dengan kata “lebih” he hemmm.. lebih dewasa, lebih tegas, lebih hemat, lebih bersabar, dsb (ternyata banyak ya..)
Tadi malam, saya baru benar – benar menyadari masa transisi ini. Iseng. Saya scrolling message FB saya dengan pacar saya di awal – awal jadian. Yap.. penuh dengan romantisme anak muda yang kalau dibaca lagi….. m-e-n-j-i-j-i-k-k-a-n hehe…lebih terkesan irrasional dan berlebihan (sebenernya mau bilang alay sih)
Nah bedanya sekarang,
Having a relationship with someone else it’s not just abut meeting, flirting, gift, etc. It’s about commitment. Yup…
Cinta itu bukan lagi sesuatu keributan yang dipermasalahkan oleh si “dia” yang tidak sms seharian
Bukan lagi suatu romansa yang harus dirayakan dengan candle-light-dinner
Bukan lagi suatu api cemburu karena si “dia” sms cewe lain ngga peduli urusannya apa
Bukan…
Cinta itu adalah komitmen, pengertian, dan kesabaran. Ternyata itu jauh lebih high class dan indah dari masa – masa awal kami jadian J
Saya..dan sama halnya dia sekarang sedang berenang sendirian. Kami hanya bisa saing menyemangati dan berusaha untuk sampai ke teluk yang sama.
Saya harus sudah mulai belajar memasak, mengatur keungan sendiri, merencankan investasi masa depan, dan merancang pernikahan J
Transisi tipe dua membutuhkan tanggung jawab dan kita harus cermat dalam mengenali resiko – resiko dari keputusan yang diambil. Disinilah tantangannya…
Sedih memang meninggalkan zona nyaman ini, tapi apa bisa di dunia ini ada kupu – kupu cantik tanpa ada proses metamorfosa? Nope. Jelas tidak mungkin.
Jangan takut akan perubahan karena belum siap,
Tapi siapkan diri untuk menantikan perubahan J
Good luck everyone!
Bismillahirrahmannirrahim….

-Putri Nur Fitasari

(putrinurfita@blogspot.com)

[1] Sikap tidak serius dan main -main

Senin, 16 Juni 2014

Cara Menikmati Secangkir Kopi


Note: Mohon maaf karena kadang ada suara hati yang lain yang nongol di postingan ini.
Hidup adalah suatu hal yang berkaitan erat dengan rutinitas, kerja, tantangan, mimpi, dan masih banyak kesibukan yang kita ciptakan. Kadangkala kita merasa kita adalah superhero yang selalu memancarkan semangat yang meledak – ledak  yang seakan bisa menghancurkan Picolo (red: musuh sun goku). Kadangkala  kita seperti putri salju, yang hanya dengan makan apel saja langsung tidur pulas, malas dengan dinamika hidup. Kadang kala kita juga biasa – biasa saja, datar, seperti berlayar di laut dalam. Pernah kan merasakan hal seperti itu?
Saya selalu bertanya – tanya, apakah benar kita adalah makhluk yang  diciptakan untuk selalu “haus”? Setelah kita mendapatkan A kadang kita merasa bosan dan ingin mendapatkan B, eh ternyata si Eni tetangga kita dapet D tuh, yah jadi pengen (red:jiwa ibu ibu banget). Ada ya? Sedikit perasaan itu pernah ada kan ya? Atau mungkin kamu (red:yang baca) ngga pernah begitu? Kalo ngga pernah yaudah cukup baca sampai paragraf ini aja J (red: da..da…)

Nah, yang pernah mengalami perasaan “haus” ini nih saya mau cerita sedkit tentang pengalaman saya. Hidup itu seperti secangkir kopi (red: terserah mau panas, pake es, atau di shake). Tau kenapa? Ya karena …
1.      Sering ditemui setiap hari (red: kalo ngga suka minum kopi pura – pura suka deh ya)
2.      Kadang yang minum pengen yang manis, yang pake creamer, yang pake susu, bla bla..
3.      Kadang salah minum  kopi pahit terus ngga suka terus muntah (red:lebay), tapi ada juga yang tetep nikmatin walaupun rasanya pahit J
4.      Kadang terlalu banyak topping malah bikin pahit dan eneg terus ngga suka terus mutah (lagi)
5.      Banyak macemnya
6.      …. (red: tiap orang kan ngga bisa dipaksa suka kopi *less imagination*)\
Well, jujur saya itu ngga suka kopi, hehe tapi boleh lah ya kita umpamakan hidup  itu seperti secangkir kopi. Banyak cara untuk menikmati secangkir kopi. Bisa dengan variasi panas, dingin, topping yang lucu lucu, campuran yang enak, bahkan ganti orang untuk menemani minum kopi juga cara untuk menikmati kopi di keseharian (red:eaaa…). Nah kalo hidup kita?
Pernah dong ya pengen  jadi Dewi kwanin (red:penulis ngga ngerti tulisan yg bener) pas TK terus ngga kesampaian karena temen kita yang superior pengen jadi Dewi kwanin  juga? (red:kisah pilu penulis) Terus kamu cuma jadi nacha gitu yang suka nyembur – nyemburin api. Pernah kan ya? Pernah kan ? (red: bilang iya aja deh biar penulis ngga ngerasa sendirian). Nah pasti sedih banget kan? Terus ngga pengen main, terus, eneg, terus muntah (red:ngga ada hubungannya -___-). Wah berhubung saya udah gede nih jadi bisa melihat sisi baik dari pengalaman itu. Jadi pas waktu main, yang namaya Dewi Kwanin kan diem nih terus klemar klemer. Kalo nacha kan lincah, lompat – lompat (red: ini sun go kong deh perasaan -___-). Coba deh bayangin, kalo pas itu saya kebelet, kan saya bisa lari dengan alibi ngejar siluman laba laba, kalo Dewi Kwanin? (Red: keburu ganti pampers baru :P)
Saya nyesel kenapa ngga mau jadi nacha…
Selain itu nacha itu seperti kepribadian saya, lincah, ngga bisa diem, emosional, nakal (red: mulai lapar).
Tuh, kadang kita pengen jadi ini, pengen dapet itu tapi malah ngga menikmati diri kita yang sekarang. Saya adalah orang yang seperti itu dulu (red: mulai serius), ngga pernah hidup di kehidupan saya. Alhasil? Banyak hal yang saya lewatkan dan pekerjaan jadi tidak maksimal. Yaudah sih nikmatin aja. Punya banyak project, sering begadang, jarang nonton tv, jarang main, eh kalo yang punya sedikit project juga dinikmati lo, jangan pengen apa – apa yang dipunya orang aja, Kadang pahit ya dinikmati, manis dikit ya dinikmati, manis banget apalagi….
Kalau kita benar – benar “in” dalam apapun yang kita kerjakan, insyaallah hasilnya pasti maksimal dan memuaskan.
“Duh banyak banget sih ini TA yang mesti dikerjain”àUntung kuliah lo…
“Duh begadang terus nih, project banyak”àlah, bagus dong, punya banyak pengalaman
“Duh kok si A ketrima ini sih, kok aku ngga” àLah, terus? Kok si A enak bener, hidupnya kamu pikirin terus? Suka yaaa…
“Duh laper” àya makan lah -_____-
Udah sih, mau ngeshare aja, nikmatin aja waktu sekarang, mumpung sehat, mumpung masih pinter, dan mumpung masih hidup J
Tetap semangat!

                                                                                                -Putri (Ibu Jendral Pleton Sibuk)

Sabtu, 14 Juni 2014

Ibu-Ibu Jendral!

Assalamualaykum :D

Nah, selamat datang di postingan pertama ibuibujendral.blogspot.com!

Blog ini adalah blog ‘rahayan’ yang dibuat oleh sekelompok cewek-cewek muda, bersemangat, dan bermimpi tinggi yang bersahabat sampai ke surga nanti inshaAllah..

Dibuat agar kami bisa saling menyemangati satu sama lain sekaligus bertukar kabar seandainya nanti kami berpisah nanti. Oh ya, sebentar lagi kami akan berpisah tentu saja :’)

Nah, ijinkanlah kami memenuhi daftar blog di dunia maya dengan blog kami dan catatan-catatan harian kami tentang hidup, cinta, tentang persahabatan, juga tentang dunia.

Ambilah yang bermanfaat, tinggalkan yang tidak bermanfaat.

Last but not least, enjoy!