Senin, 11 Agustus 2014

Transisi

Yogyakarta, 11th August 2014
Masa transisi..
Bukan hanya terjadi ketika umur belasan tahun saja, masa – masa dari anak ingusan ke usia remaja (atau yang selanjutnya saya sebut transisi tipe 1). Saya, Putri umur 22 tahun, dan saya mengalami masa – masa itu lagi. Hanya saja ini berbeda. Ya..sangat berbeda.

Dulu sewaktu SMP atau SMP ke SMA (waktu di mana transisi tipe 1 mulai berinkubasi dalam seorang remaja) mungkin kita bisa saja diijinkan untuk “slengekan”[1], ceroboh atau tidak berpikir jangka pajang terhadap apa yang kita putuskan sewaktu kita megalami transisi tipe 1. Misalnya saja ketika kita memutuskan jatuh cinta kepada seorang ketua OSIS, atau kita memutuskan untuk mengecat rambut kita dengan cat rambut murahan, dan bahkan jika kita yang muslimah memutuskan untuk berhiijab J, eh satu lagi ini yang paling sering buat para remaja laki – laki à merokok. Ya, mungkin dalam urusan berhijab memang tidak ada unsur “slengekan-“nya tapi kalau saya pribadi, dulu memutuskan berhijab karena saya ingin seperti mba –mba keren SMA 1 Yogya yang anggun memakai balutan pakaian perintah Allah tersebut. Saya tidak mendalami benar – benar apa itu hijab (dan sampai sekarang saya masih “belajar” untuk mendalami).

Mungkin ketika saya utarakan gambaran mengenai transisi tipe 1 tadi banyak yang berkata pada layar laptop masing – masing
 “ah ngga aku dulu remajanya ngga nakal”, atau…
“ah siapa bilang dulu pengen ngecat rambut”, atau..
“aku tau kok kenapa aku dulu pake hijab”
Tapi bukan itu maksud saya, transisi tipe 1 lebih bersifat spontan dan tanpa pertimbangan pemikiran yang mendalam (hayo ngaku!).

Nah sekarang, transisi tipe 2, mungkin saya ingin bercerita saja ya.
Saya adalah ibarat seorang penyu yang baru saja keluar dari telur saya yang hangat dan nyaman. Saya adalah penyu kecil yang dihadapkan oleh laut yang membentang luas. Beruntung, saya tidak buta arah karena penyu – penyu kecil lain menuju ke arah yang sama. Laut. Ya..Lautan luas yang saya sebutkkan tadi. Induk –induk kami yang menuntun kami ke lautan itu. Penyu kecil ini sangat semangat untuk segera berenang. Suatu bagian tubuh kami yang menyerupai kaki sangat menggeliat di pasir pantai yang tersusun atas pecahan – pecahan karang dan cangkang hewan –hewan pesisir. Saking semangatnya kami sang anak penyu, kami tidak sadar sudah berada di pinggir pantai. Ketika saya menengok ke belakang saya melihatnya, induk dan sarang saya yang nyaman, yang sebentar lagi akan saya tinggalkan. Induk saya menangis haru, ya walaupun saya tahu itu adalah tangisan kemenangan dan sang induk seolah berkata
“wahai penyu kecil berenanglah sejauh – jauhnya, tinggallah di tempat yang nyaman dan temukanlah si jantan, jangan kau ingat lagi pesisir ini, karena kau harus mendapatkan tempat yang lebih baik”
Aku tersenyum padanya dan berkata dalam hati
“Aku akan kembali ke pesisir ini, bukan untuk tinggal di sini, tapi untuk membawamu ke tempat yang aku temukan, dan aku pastikan itu lebih baik dari ini, akan ada banyak makanan dan  sarang yang lebih nyaman.”
“Aku tak mengajakmu bukan karena kamu merepotkan, tapi aku tak ingin ombak besar atau predator di sana melukaimu, aku ingin kau ikut denganku di kala aku sudah menemukan tempat itu”
Aku si anak penyu menguatkan langkah demi langkah sembari mematri janjiku pada indukku . Tiba-tiba ada cipratan air yang mengenai muka dan membasahi cangkang kecilku. Mereka menyadarkanku, ya…penyu – penyu kecil lainnya mereka berenang ke segala arah dan menyebar. Aku ingin berteriak “Hei..bukankah seharusnya arah kita sama?” Tapi sebelum aku berteriak aku sadar, aku sendirian. Kini aku harus bisa menjadi pelindung, ya…paling tidak pelindung bagi diriku sendiri, aku tidak bisa lagi mengandalkan sangkar dan indukku lagi.
Aku sendirian…

Sepenggal kisaah penyu kecil tadi kurang lebih sudah mendeskripsikan apa yang saya rasakan sekarang. Transisi tipe 2 adalah salah satu bagian hidup  yang menurut saya dramatis. Bagaimana tidak, meninggalkan keluarga, teman, selimut kesayangan (mungkin), uang saku, atau lebih dari itu…kita harus meninggalkan masa “main –main” kita meskipun di luar sana saya tahu banyak orang yang masih tidak mau meninggalkan masa “main-mainnya” dengan alasan kebebasan.
Well sebenarnya tidak banyak yang berubah di transisi kedua ini. Mungkin kita harus lebih  akrab dengan kata “lebih” he hemmm.. lebih dewasa, lebih tegas, lebih hemat, lebih bersabar, dsb (ternyata banyak ya..)
Tadi malam, saya baru benar – benar menyadari masa transisi ini. Iseng. Saya scrolling message FB saya dengan pacar saya di awal – awal jadian. Yap.. penuh dengan romantisme anak muda yang kalau dibaca lagi….. m-e-n-j-i-j-i-k-k-a-n hehe…lebih terkesan irrasional dan berlebihan (sebenernya mau bilang alay sih)
Nah bedanya sekarang,
Having a relationship with someone else it’s not just abut meeting, flirting, gift, etc. It’s about commitment. Yup…
Cinta itu bukan lagi sesuatu keributan yang dipermasalahkan oleh si “dia” yang tidak sms seharian
Bukan lagi suatu romansa yang harus dirayakan dengan candle-light-dinner
Bukan lagi suatu api cemburu karena si “dia” sms cewe lain ngga peduli urusannya apa
Bukan…
Cinta itu adalah komitmen, pengertian, dan kesabaran. Ternyata itu jauh lebih high class dan indah dari masa – masa awal kami jadian J
Saya..dan sama halnya dia sekarang sedang berenang sendirian. Kami hanya bisa saing menyemangati dan berusaha untuk sampai ke teluk yang sama.
Saya harus sudah mulai belajar memasak, mengatur keungan sendiri, merencankan investasi masa depan, dan merancang pernikahan J
Transisi tipe dua membutuhkan tanggung jawab dan kita harus cermat dalam mengenali resiko – resiko dari keputusan yang diambil. Disinilah tantangannya…
Sedih memang meninggalkan zona nyaman ini, tapi apa bisa di dunia ini ada kupu – kupu cantik tanpa ada proses metamorfosa? Nope. Jelas tidak mungkin.
Jangan takut akan perubahan karena belum siap,
Tapi siapkan diri untuk menantikan perubahan J
Good luck everyone!
Bismillahirrahmannirrahim….

-Putri Nur Fitasari

(putrinurfita@blogspot.com)

[1] Sikap tidak serius dan main -main

1 komentar: